Menilik Kerajinan Khas Papua

  • July 28, 2020

Dalam satu dekade terakhir, sektor wisata di Pulau Papua berkembang secara signifikan. Hal ini tak lepas dari semakin populernya sejumlah destinasi wisata alam yang unik nan mempesona di Papua seperti Raja Ampat, Danau Sentani, Pegunungan Arfak, dan masih banyak lagi. Selain itu, mulai bermunculan juga berbagai macam bentuk promosi pariwisata berskala besar yang mampu menarik minat wisatawan, baik lokal maupun mancanegara seperti Sail Raja Ampat, Festival Lembah Baliem, Festival Danau Sentani, Festival Crossborder di Merauke, dan lain-lain.

Wisatawan pada umumnya datang ke acara tersebut karena ingin menonton dan merasakan langsung kebudayaan masyarakat Papua yang mengagumkan seperti tari perang, tari adat di atas perahu, hingga upacara bakar batu. Hal tersebut menunjukkan bahwa tanah mutiara hitam di Indonesia ini tidak kekurangan potensi alam dan budaya untuk terus dieksplorasi menjadi atraksi pariwisata.

Di samping pesona alamnya, tari tradisional, dan berbagai tradisi yang atraktif, ada satu lagi potensi pendukung pariwisata di Papua, yaitu kerajinan tradisional Papua. Masyarakat Indonesia selama ini telah familiar dengan ukiran kayu Asmat dan tas rajut/anyaman noken. Dua kerajinan tersebut sudah menjadi cenderamata khas Papua yang banyak dibungkus oleh wisatawan. Noken bahkan telah masuk ke dalam daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO semenjak tahun 2012.

Sebenarnya masih ada banyak kerajinan tradisional dari Papua lainnya yang belum dikenal luas, baik di Indonesia maupun luar negeri, karena minimnya sorotan media massa, diantaranya ada khombow dan Terfo. Dua kerajinan ini tak kalah unik dan khas dengan ukiran kayu Asmat dan noken. Bahkan, pada tanggal 13-16 September 2016 lalu, khombow dan terfo telah dinyatakan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dalam sidang yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Republik Indonesia. Bersama dengan 148 karya budaya yang dinominasikan oleh pemerintah daerah dari seluruh daerah provinsi di Indonesia, dua kerajinan dari Provinsi Papua ini memperoleh status tersebut sesuai dengan amanat Konvensi UNESCO tahun 2003 tentang Perlindungan Warisan Budaya Takbenda.

Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kemdikbud ini bermaksud untuk meningkatkan apresiasi dan kebanggaan masyarakat Indonesia terhadap karya budaya yang dimiliki; memperkuat kesadaran dan peran aktif masyarakat dan pemangku kebijakan terhadap pentingnya melindungi dan merawat karya budaya tersebut; dan mempromosikan Warisan Budaya Takbenda Indonesia kepada masyarakat luas baik di dalam maupun luar negeri.

Khombow adalah kerajinan kulit kayu khas orang Sentani yang yang dahulunya digunakan sebagai pakaian (malo) oleh perempuan Sentani yang sudah menikah untuk menutup bagian bawah tubuh mereka. Saat ini khombow juga dijadikan lukisan yang dapat digunakan sebagai dekorasi ruangan. Motif-motif yang dilukis pada kulit kayu khombow memiliki arti dan makna yang bersifat sakral untuk orang Sentani. Ada 12 motif yang bisa ditemui pada khombow yaitu matahari, ular, cicak, kadal, ikan, kaki burung Bangau, belut, kelelawar, tupai terbang, daun-daun, bunga hutan dan spiral.

Terfo merupakan anyaman dengan memanfaatkan daun nipah atau daun nibung dalam bahasa setempat. Kerajinan ini banyak dikenal di Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Sejak masih kanak-kanak, para perempuan telah diajarkan membuat terfo oleh orang tua mereka. Terfo dikenal juga dengan tenun terfo, sebab menggunakan alat bantu berupa perlengkapan tenun sederhana bukan mesin. Warna-warna terfo adalah kuning, merah, hitam dan biru, namun putih adalah warna dasar. Selain sebagai pakaian bawahan bagi perempuan dalam upacara adat, terfo bisa juga dikenakan sebagai selendang.

Dengan status khusus yang kini telah dimiliki, khombow dan terfo diharapkan lebih dikenal dan dikembangkan oleh para pelaku budaya dan pariwisata di Papua. Dua kerajinan tradisional ini dapat dikreasikan menjadi berbagai produk cenderamata bagi wisatawan. Adanya keberagaman jenis cenderamata khas Papua yang dipasarkan akan menjadi faktor yang mendukung pembangunan pariwisata di Papua. Wisatawan tentu senang bila punya banyak pilihan benda-benda budaya yang bisa mereka beli dan bawa pulang untuk kenang-kenangan atau hadiah bagi keluarga dan sahabat. Terlebih lagi, kerajinan tradisional khas Papua punya ciri khas yang unik dan tidak dapat ditemui di daerah lainnya. Membeli kerajinan tradisional sebagai cenderamata juga menjadi penanda bahwa seseorang pernah pergi berwisata ke Papua yang penuh pesona ini.

Promosi dan pengembangan kerajinan tradisional sebagai cenderamata juga secara langsung akan mendorong upaya aktif masyarakat untuk ikut melestarikan karya budaya yang telah turun-menurun dari generasi-generasi sebelumnya ini. Apabila digarap dengan serius, potensi ekonomi dari cenderamata kerajinan tradisional ini sangat tinggi. Usaha kecil menengah (UKM) di bidang ini akan bermunculan dan memberikan kesempatan bagi masyarakat setempat untuk mendapat tambahan penghasilan.

Kita semua tentu berharap agar kerajinan-kerajinan tradisional Papua seperti ukiran kayu Asmat, noken, khombow, terfo dan lain-lainnya dapat semakin terangkat seiring berkembangnya berbagai lokasi di Papua sebagai destinasi wisata favorit bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Dengan demikian, Papua akan semakin siap menawarkan paket pariwisata yang lengkap yaitu keindahan alam yang terjaga dengan baik dan keunikan seni budaya yang lestari. Semoga pariwisata di Papua bertambah maju dan mampu membawa kesejahteraan bagi masyarakat luas. Mari bersama-sama kita mengangkat keunikan Papua, membuka masa depan pariwisata Papua!

Mahalini

E-mail : Mahalini@gmail.com

Submit A Comment

Must be fill required * marked fields.

:*
:*